nuprobolinggo.or.id -Selama ini masyarakat menganggap tarekat adalah suatu yang memberatkan, karena di dalamnya ada bacaan bacaan yang wajib dibaca secara rutin.
Benarkah demikian? Stigma seperti itu menjadi perhatian Idaroh Syu'biyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah aI-Muktabarah an-Nahdliyah (Jatman) Kabupaten Probolinggo.
Di acara Perumusan Program Kerja dalam Penguatan Organisasi yang digelar di Musholla Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al'Kholili, Desa Muneng, Kecamatan Sumberasih, Senin (6/12/2021), Mudir Idaroh Syu'biyah Jatman Kabupaten Probolinggo, KH. Abd Majid mengakui adanya stigma tersebut.
KH Abd Majid bertekad akan mengubah stigma penilaian yang selama ini beredar di masyarakat terhadap tarekat. Di antaranya dengan kegiatan rutinan yang akan dilaksanakan pada tiap bulan.
Dalam kegiatan rutinan tersebut, akan diisi dengan pembacaan Sholawat Thoriqoh, Sholawat Nabi, dan syiar tentang Thoriqoh kepada masyarakat secara luas.
Melalui kegiatan rutinan yang jadi program kerja organisasi, KH Abd Majid berharap agar Jatman bisa diterima di masyarakat.
Dalam pertemuan Senin malam, kegiatan rutinan disepakati menjadi program kerja Jatman Kabupaten Probolinggo.
"Para pengurus berkomitmen akan terus bergerak dalam melaksanakan hasil rumusan program kerja yang sudah disepakati," kata KH. Abd Majid.
Melalui Jatman, masyarakat diharapkan bisa mudah menerima tarekat yang sebagai jalan agar hidup kita lebih bermakna serta mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Diketahui, Jatman berarti perkumpulan para pengamal tarekat muktabarah NU. Organisasi yang didirikan 1979 ini merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama atau NU.
Tujuan organisasi ini adalah mengusahakan berlakunya syariat Islam lahir dan batin dengan berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah yang berpegang kepada salah satu mazhab empat.
Mempergiat dan meningkatkan amal saleh lahir dan batin menurut ajaran ulama shalihin dengan suatu janji setia (bai’ah shalihah).
Dan menyelenggarakan pengajian (khususi) dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. (Masrur Ghazali)