Putra Kiai Hasjim Asj'ari. Berpendidikan pesantren, terakhir belajar d Mekkah (1932-33). Setelah kembali, dia mendirikan sebuah madrasah bergaya-modern yang digabungkan di pesantren ayahnya (1935), dengan demikian menjadikan Tebuireng sebagai model yang belakangan banyak diikuti pesantren-pesantren lain. Jabatan-jabatan resmi pertama di NU: sekretaris cabang Cukir (1937), ketua cabang Jombang (1938), ketua biro pendidikan pengurus nasional (1939). Ketika Masyumi didirikan di bawah pengawasan Jepang pada 1943, Wahid menjadi wakil pimpinan, yang tetap dipegangnya sampai NU keluardari Masyumi pada 1952. Sejak bulan Desember 1945 hingga April 1952 menjadi Menteri agama; sejak Agustus 1952 sampai akhir hayatnya pada bulan April 1953 menjabat sebagai ketua umum Tanfidziyah PBNU.
KH. Abdul Wahid Hasjim dihubungkan melalui perkawinan dengan pendiri NU lainnya; isterinya, Solehah, adalah putri Kiai Bisri Syansuri dan kemenakan langsung Kiai Wahab Chasbullah. Solehah yang berkemauan keras ini tetap merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam politik di-belakang-layar NU sampai akhir hayatnya.
(Gunseikanbu 1986 :435; Aboebakar 1957; Dhofier 1984) dikutip dari Martin Van Bruinnessen (1994)