Probolinggo (IslamNu) Bertempat di Aula Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo Jl. Raya Lumajang 178 Warujinggo, Jum’at (6/4) digelar peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (HL-NU) yang ke 95. (6/4/2018).
Kegiatan ini dihadiri Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama baik Syuriyah maupun Tanfidziyah, hadir pula pimpinan Badan Otonom dan Lembaga, Alumni PKP, Ketua MWC-PRNU di lingkungan PCNU Kabupaten Probolinggo. Acara diawali dengan pembacaan Istighosah dan tahlil bersama yang hadiahnya disampaikan kepada para Muassis Jam’iyah Nahdlatul Ulama dipimpin KH. Ghozali dilanjutkan dengan doa oleh Rois Syuriah PCNU KH. Jamaluddin Alhariri.
Dengan didampingi Sekjen PCNU Chairul Ishaq, Ketua Tanfidziyah PCNU KH. Abdul Hadi Saifullah menyampaikan terima kasih kepada semua undangan semoga niat baik kita dicatat sebagai amal sholih dan bernilai ibadah. Marilah kita rapatkan barisan berkomitmen membangun ghirah perjuangan mempertahankan paham Ahlussunnah wal jamaah serta tidak melupakan untuk membangun komonikasi lintas sektoral yang mengarah pada penyamaan persepsi “Membangun bangsa dengan tidak melupan Cultur yang berkembang di bumi persada.” Pernyataan diatas tidak lepas dengan tema yang diusung pada harlah ke 95 ini yakni “Memperkokoh Ukhuwah Wathaniyah untuk INDONESIA yang lebih SEJAHTERA".
Ia melanjutkan, NU lahir bukan dengan gelimangan kemewahan, Namun NU lahir dari kesederhanaan, lahir dari para Ulama yang sederhana. Marilah kita lebih mengedepankan keikhlasan dalam melakukan perjuangan demi menghidupkan dan melestarian Jam’iyah ini dengan melakukan ziarah kepada para pendiri, ajaknya.
Januari 1926 para Ulama ASWAJA Indonesia berkumpul di Surabaya untuk membahas perubahan ajaran di dua kota suci yang melahirkan Komite Hijaz menerima mandat untuk mengahadap raja Ibnu Sa’ud guna menyampaikan masukan dari ulama-ulama ASWAJA Indonesia. Dikarenakan diperlukan adanya Induk organisasi yang menaungi delegasi Komite Hijaz, 31 Januari 1926 Ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Indonesia kembali berkumpul dan membentuk organisasi Induk yang diberi nama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama), dengan Rois Akbar Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Kakek Presiden RI ke 4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Kita apresiasi pengurus ranting yang ikhlas dalam menjalankan amanah dengan baik dan penuh keikhlasan, semoga keikhlasan yang Allah berikan kepada para Muassis Nahdlatul Ulama juga diwariskan kepada kita, keistimewaan, kehebatan, kemulyaan yang juga Allah berikan kepada para pendiri Jam’iyah ini juga diberikan kepada kita, harapnya.
Para pengurus kembali diingatkan akan pentingnya menjaga keutuhan NKRI dan memperkokoh persatuan kesatuan menuju persaudaran setanah air serta mengawal warganya menuju kesejahteran lahir batin. Jangan manfaatkan NU untuk kepentingan pribadi, pertahankan ajaran Aswaja yang membumi guna kebesaran NU yang bermartabat, manfaat dan maslahat bagi seluruh masyarakat.
Secara bersamaan dengan membentuk kelompok, para undangan bersila menikmati menu sajian sederhana yang dibawanya sendiri menambah meriahnya momen harlah ke 95 ini. Apalagi dari awal acara juga dimeriahkan dengan penampilan Jam’iyah Hadrah Albanjari hasil besutan PC. ISHARI NU Probolinggo. (Mp).