Kab. Probolinggo (IslamNu) Bertempat di Pendopo Kecamatan Wonomerto, hari ini Senin, 30 Mei 2016, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo menggelar “Pembinaan Kerukunan Umat Beragama Dalam Rangka Peningkatan Wawasan Multikultural dan Keagamaan”, yang diikuti sebanyak 40 peserta dari berbagai unsur; Kemenag, Muspika, Penyuluh Agama (Islam, Hindu dan Kristen), KUA, Kepala Desa, Pimpinan Ormas Islam; (MUI, MWCNU dan FKDM), Eks Penganut Aliran Suci serta beberapa tokoh agama sekitar. (30/5).
Hadir dalam acara tersebut Kepala Kankemenag, Bpk H. Busthami, Kasubag TU, H. Atok Illah, dan Drs. KH. Syarifuddin Syarif Katib Syuriyah PWNU Provinsi Jawa Timur. Dalam sambutannya Kepala Kankemenag menghimbau agar acara ini bisa berjalan dengan baik para peserta bisa mengikuti dengan baik, yang terutama adalah upaya untuk memberikan pemahaman keagamaan yang konperhensip dan menyeluruh, sehingga munculnya aliran yang menyimpang dapat dengan mudah untuk didekati dengan baik. Di mana metodologi dakwah layaknya diterapkan dalam upaya penyadaran mereka yang sudah menyepakati untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar.
Selanjutnya Orasi Ilmiyah disampaikan oleh Drs. KH. Syarifuddin Syarif, Beliau menyampaikan orasinya dengan sangat luas dan gamblang. Beliau menjelaskan bahwa Islam menyatakan kita wajib memulyakan manusia; baik yang beragama Islam, maupun yang non muslim. Islam agama Universal yang selalu akan merahmati semua umat manusia.
Funding fathers negeri ini yang juga mayoritas Umat Islam (BPUPKI) yang berjumlah 9 orang itu, 8 orang islam dan yang 1 non muslim, bersama-sama membuat PANCASILA dan membuat kata-kata yang menjadi kesepakatan bersama Bhinneka Tunggal Ika; terbeda-beda tetapi satu tujuan, satu bangsa Indonesia.
Indonesia jangan sampai merugi karena terpecah belah, seperti Afganistan dan Mianmar. Kita harus mengutamakan kerukunan dan keamanan. Kita yang mayoritas jangan pernah meremehkan yang sedikit, karena tidak ada paksaan di dalam beragama; baik di dalam masuk agama maupun di dalam melaksanakan agama sebagaimana yang telah distressing oleh Rasulullah SAW. sebagai tuntunan dan pedoman yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. di mana islam yang baik adalah Islam yang bisa bergaul di mana saja dan kepada siapa saja.
Saudara-saudara kita yang masih berbeda dengan kita tetap harus kita hormati. Karena Rasulullah telah menyatakan bahwa Agama Yahudi akan pecah menjadi 71 golongan, Nasrani akan pecah menjadi 72 golongan dan Muslim akan pecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka walaupun pada akhirnya akan masuk surga. Kecuali yang satu yang senantiasa berpegang pada Sunnah saya dan Sahabat-sahabat saya.
Oleh karena itu pertama kali kasus ini muncul saya ditelpon oleh KH. Ali Mashuri Sidoarjo saat ada pertemuan di Jakarta “International Summit Islamic Moderat Leaders”, yang dalam bahasa Arab “Mu’tamarul Qimmah Ad-Dauli Lizzuama’ il Muslimin Al-Mu’tamirin”. Namun kemudian kita dapatkan jawaban dari teman-teman MUI di Probolinggo.
Sebenarnya teman-teman kita ingin meresapi bagaimana ketika kita sholat enghadap Allah Swt. paham akan maknanya, namun kemungkinan pula dimasuki syaitan. Namun ini salah karena tidak memakai aturan yang telah digariskan oleh Rasulullah Saw. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang artinya : “Jika kalian mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ikutilah saya”, atau dalam hadis lain yang artinya : “Sholatlah kalian sebagaimana aku sholat”.
Aproach personal amat penting sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Kudus menyarankan umat Islam kala itu agar dalam berkorban menyembelih kambing dan kerbau karena saat ini umat islam berdekatan dengan agama Hindu, sebagaimana yang terjadi di Bombai India; ketika KH. Hasyim Muzadi Mantan Ketua PBNU berkunjung ke India pernah bertanya ketika ada beberapa kendaraan berhenti ketika apa sekelompok sapi yang lewat, ketika ditanya maka jawabannya adalah karena sapi merupakan binatang yang dimuliakan oleh pemeluk agama Hindu.
Islam yang benar merupakan Islam yang ramah, cantik, islam yang bisa hidup di mana saja, islam yang tidak mudah marah, tidak mudah menyalahkan caci maki orang lain. Nahdlatul Ulama, mati-matian mengatakan bahwa NKRI harga mati bukan tanpa sebab, yang difikir oleh NU adalah negeri dengan penduduk terbesar ke lima dari China, India, Amerika negara lainnya, 240 juta. Sekarang Indonesia menjadi negara yang ditunjuk untuk dihancurkan dari dalam dengan mengupayakan perang saudara dan tentunya kita akan sulit untuk bersatu.
Alhamdulillah Negara Afganistan yang sudah puluhan tahun berperang, atas tawaran, KH. As’ad Said Ali, salah satu anggota BIN di Indonesia, dengan berkoordinasi dengan ulama Afagnistan untuk datang ke beberapa Pondok pesantren yang disambut dengan sholawat nabi dengan iringan rebana, para Ulama tersebut menangis dengan seraya menjawab kami waktu kecil juga sama seperti ini namun saat ini generasi di sana sudah sejak kecil harus memegang senjata. Namun patut bersyukur saat ini di sana sudah berdiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang diikuti 8000 ulama, dengan 5 Bintang dengan dasar; landasan NU; Tasamuh, Tawasun, I’tidal, Tawasuth dan Tasawur. Sementara di Indonesia menggunakan bintang sembilan (9) dengan alasan ada sembilan wali (Wali Songo) penyebar Islam Indonesia.
Ada beberapa sisi yang harus kita laksanakan dengan kekompakan dan persatuan baik sisi manajemen, sisi kultural (Tsaqofah) sebagai budaya yang baik yang tidak bertentangan dengan agama, syukur-syukur dengan semua agama.
Ulama menyatakan NKRI harga mati karena mengikuti jejak Nabi Besar Muhammad Saw. Di mana Rasulullah Saw di Madinah tidak mendirikan negara Islam, akan tetapi mendirikan sebuah Nation, State (Negara Bangsa pertama di dunia) dengan sebuah konstitusi yang disebut dengan Mitsaqul Madinah (PIAGAM MADINAH). yang isinya kami umat Islam; Nabi dan Sahabatnya, umat Kristen (Nasroni), Yahudi, Bangsa Shobi’i, Washani (penyembah patung) bersama dengan pengikutnya, bersatu bersama-sama mendirikan negeri ini, memajukan negeri ini dan berjuang menolak negeri ini dari rongrongan dari luar dan dari dalam. Sama dengan PANCASILA dan Bhinneka Tunggal Ika yang ada di negeri ini.
“Kita harus bersama-sama memajukan negeri ini dengan senantiasa berharap semoga negeri ini menjadi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghofur, harapnya.”
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan dialog dan tanya jawab, dengan beberapa usulan dan ulasan yang sempat memanas namun pada akhirnya berjalan dengan baik hingga selesai. Semoga bisa memberikan makna yang besar bagi kehidupan umat beragama di Indonesia secara umum dan Kabupaten Probolinggo secara khusus dimana pembangunan manusia Indonesia seutuhnya bisa terwujud dengan bersama-sama i’tikad baik dan senantiasa bersandar pada “Amar Ma’ruf Wan Nahyu anil Munkar”. (Ansori).