Probolinggo, 30/9/2017 (IslamNu) Berangkat Jam 13.00 WIB Jajaran Forkopimcam bersama sama Tokoh agama dan tokoh masyarakat mengadakan ziarah kepada para pejuang islam nusantara. Diantara agenda kunjungan para peletak batu perjuangan agama yang ada di Jawa timur yang terkenal dengan sebutan wali lima; 1. Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Menurut riwayat ia adalah putra dari Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seseorang putri Champa yang bernama Dewi Chondro Wulan Binti Raja Champa terakhir Dinasti Ming. 2. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik, Sunan Tandhes atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo). Ia mendakwahkan Islam dengan merangkul masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit saat mereka tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Kemudian membangun pondok di Leran gresik. Dan wafat pada tahun 1419 M dimakamkan di desa Gapura Wetan, Gresik.
3. Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin). Ia putra Maulana Ishaq, merupakan murid Sunan Ampel dan saudara seperguruan Sunan Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di wilayah Giri Kedaton Gresik, selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia Timur, bahkan sampai ke kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal adalah Sunan Giri Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima. 4. Sunan Drajat (Raden Qasim) Berada di Lamongan. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang. Kemudian mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan. Ia menyebarkan Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi.
5. Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim) Berlokasi di Tuban. Ia lahir tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Ia wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang.
Selain mengunjungi lima wali anggota wali songo yang masyhur di pulau jawa, rombongan juga mengagendakan akan menuju Pendiri Organisasi Islam terbesar “Nahdlatul Ulama” Hadratus Syaikh KH. Kholil Bangkalan dan akan dilanjutkan menuju Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari dilanjutkan ke Maqbarah Menteri Agama pertama KH. Wahid Hasyim dan Presiden RI ke empat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ditambah beberapa wali yang lain.
Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah islamiyah antar sesama muslim, serta membangkitkan semangat juang sebagaimana para pejuang islam serta mengajarkan kita untuk selalu mengingat jasa-jasa mereka yang tidak pernah lekang oleh waktu. Sedikitnya, 840 orang yang terdiri dari Jamaah Yasinan, Majelis Ta’lim, Imam Masjid-Musholla, Guru ngaji hingga pengurus NU-Fatayat-Muslimat NU, Ansor, Kepala dan perangkat desa turut mengamini upaya ngaji sejarah yang akan diangkut dengan 14 Bus yang secara resmi dilepas Camat Wonomerto Bapak Taufik Alami, S.Sos. M.Si. (Mp).