Etika
yang ditekankan tidak sekedar terhadap kesesama manusia, namun dari semua aspek
cerminan etika. Baik etika belajar mengajar, etika kepada buku/kitab, antara
peserta didik terhadap tenaga pendidik dan sebaliknya, etika terhadap
pelajaran, etika tenaga pendidik, termasuk etika tenaga pendidik ke peserta
didik itu sendiri (Baca : Mu’allim fima Yahtaj Ilaa al-Muta’allim fi Ahu al-Muta’allim
wa Yataqoff al-Mu’allim fi Maqomat Ta’limah) .
Dari situ juga, KH Hasyim Asya’ri juga meperioritaskan bahwa Keutamaan ilmu dan keutamaan belajar mengajar sangat penting. Tentu Bagi peserta didik dan tenaga pendidik dibekali dengan niat suci untuk menuntut ilmu karena Allah swt.
Ini
juga searah dengan pemikiran al-Ghazali yang menekankan terhadap pendidikan
rohani perspektif sufisme. Hal itu berupa tercapainya kesempurnaan insani yang
bermuara pada pendekatan diri terhadap Allah swt. dan kesempurnaan insani yang
bermuara terhadap kebahagiaan dunia akhirat. Sebagai simpulan bahwa keduanya
bersumber pada Ilmu.
Sedangkan
kurikulum yang dibidik dari pemikiran KH. Hasyim Asy’ari bagi pemula setidaknya
mempelajari empat ilmu yaitu tentang Dzatullah, sifat-sifat Allah, Fiqhiyah,
dan ilmu prilaku diri. Sebelum seseorang terserbut belajar tentang al-Qur’an,
Tafsir dan al-Hadits sebagai pematangan keimanan dari seseorang. Disamping menghidari
terhadap ilmu-ilmu pertentangan (Khilafiyah) di kalangan para ulama demi
menghidari pembingungan (Baca: Adabul
Alim wa al-Muata’alim).
Pemikiran
KH. Hasyim Asy’ari terkait pendidikan lebih kepada memperlihatkan perpaduan antara
Teoritis dan praktisi yang memiliki gagasan yang didasari oleh kebutuhan
masyarakat dan situasi kulutural di zamannya. Tentu masih dalam koredor ahlusunnah
wal Jama’ah an-nahdhiyyin. (*)
*Dari Berbagai
Sumber
Oleh : Moch
Mahsun