Probolinggo (IslamNu) Upaya untuk menangkal paham-paham radikalisme, Alumni PKPNU I gandeng penyuluh agama kabupaten melakukan suluhan keliling dengan tema-tema kontemporer. Hal ini dimotori Alumni PKPNU yang sekaligus Sekretaris LTN-NU kabupaten Probolinggo Rohmat Wahyudi, M.PdI. Jum’at malam (24/11/2017).
Suluhan keliling putaran III bertempat di Masjid Nurul Jadid Besuk kecamatan Bantaran. Pembahasan difokuskan pada paham radikal. Materi pertama “Meluruskan paham radikalisme” disampaikan salah seorang penyuluh fungsional kemenag Ansori, M.Sy. Materi kedua “Radikalisme” secara umum dikupas Rohmad Wahyudi, M.PdI penyuluh agama non pns yang bidang radikalisme. Kegiatan ini diikuti para tokoh agama, tokoh masyarakat, takmir masjid Nurul Jadid Besuk Bantaran serta para penyuluh agama turut hadir memberikan semangat kepada pejuang islam dari generasi muda.
Radikalisme atas nama agama ini sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan, beliau pun sudah mengabarkan dalam berbagai haditsnya bahwa gerakan semacam ini akan selalu ada sampai kelak. Salah satunya hadits yang menceritakan tentang Dzul Khuwaishirahyang tertera dalam Hadist Bukhori 3341, HR Muslim 1773) dan hadits yang menceritakan mengenai ciri-ciri kelompok radikal (HR Bukhari nomor 7123, Juz 6 halaman 20748; Sunan an-Nasai bab Man Syahara Saifahu 12/ 474 nomor 4034; Musnad Ahmad bab Hadits Abi Barzakh al-Aslami 40/ 266 nomor 18947).
Yang menjadi alasan utama adanya radikalisme agama (gerakan-gerakan Islam garis keras) tersebut adalah dilatarbelakangi ketidakpuasan politik, dan ketimpangan sosial dan agama sering dijadikan sebagai legitimasi. Padahal, radikalisme berpotensi menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia. Radikalisme dapat menjadikan suatu negera dipandang rendah bangsa lain yang mengakibatkan merosotnya ekonomi. Selain itu radikalisme bertentangan dengan pancasila sila pertama.Tidak ada satupun agama yang di Indonesia yang mengajarkan radikalisme untuk mencapai tujuan dari suatu umat beragama.
Sebagai Bangsa Muslim terbesar di dunia, Indonesia pun menggenggam legitimasi yang amat kuat untuk memulai inisiatif perdamaian dunia. Indonesia juga memiliki wawasan Islam Nusantara, yaitu wawasan keislaman yang mengedepankan harmoni sosial dengan vitalitas untuk secara kreatif terus-menerus mendialogkan sumber-sumber ajaran dengan perubahan-perubahan konteks yang terjadi di lingkungan sosial-budayanya.
Melihat fenomena diatas, maka keberadaan Pancasila masih sangat relevan untuk kita terapkan di Indonesia, guna menangkal adanya aliran radikal dan sejenisnya. Pancasila merupakan ideologi dan falsafah hidup bangsa. Maka sangat tepat Pidato Presiden Jokowi saat memberikan Orasi Ilmiyah dalam Munas dan Kombes Nahdlatul Ulama di Lombok kemarin, Kamis (23/11/2017).
“Kita ini dilihat, oleh negara-negara lain sebagai negara yang tidak punya kepentingan, negara yang netral, negara yang dingin dan sejuk. Yang itu juga disebabkan karena organisasi terbesar di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama, jadi pak kiai kami mohon nantinya di munas dan kombes ini bisa dibahas dan dijampaikan kepada kami rekomendasi-rekomendasi terutama yang berhubungan dengan pemerintah agar kami bisa menindaklanjuti teruma berkaitan dengan gerakan radikalisme, gerakan intoleran apa yang harus dilakukan oleh pemerintah. karena sekarang saya kira pegangan kita sudah kuat, ada Undang-Undangnya, ada Perpu-nya, jadi kalau memutuskan itu ada payung hukumnya yang jelas dan saya sudah minta kepada seluruh jajaran di pemerintahan agar tegas dan tidak memberikan toleransi kepada aliran-aliran yang radikal, aliran-aliran yang intoleran yang ada di negara kita apapun organisasinya”.
Berikut ciri - ciri Paham Radikal (kelompok fundamentalis radikal yang fanatik) menurut Syaikh Yusuf Qordawi, sebagai berikut: 1. acapkali mengklaim kebenaran tunggal (mudah menyesatkan kelompok lain yang tak sependapat dengannya), 2.Cenderung mempersulit agama (ibadah mubah atau sunnah seakan-akan wajib dan yang makruh dianggapnya haram), 3. Kebanyakkan mengalami overdosis agama yang tidak pada tempatnya. Misalnya, dalam berdakwah mereka mengesampingkan metode gradual, "step by step", yang digunakan oleh Nabi dan Walisongo. Sehingga bagi orang awam, mereka cenderung kasar dalam berinteraksi, keras dalam berbicara dan emosional dalam menyampaikan.Tetapi bagi mereka sikap itu adalah sebagi wujud ketegasan, ke-konsistenan dalam berdakwah, dan menjunjung misi "amar ma'aruf nahi munkar", 4. Mudah mengkafirkan orang lain, dan ke 5. Menggunakan cara-cara antara lain seperti : pengeboman, penculikan dll. (Mp).