nuprobolinggo.or.id - Kiai Muhammad Khalil atau yang lebih dikenal Syaikhona Khalil Bangkalan, Jatim, gencar diusulkan menjadi pahlawan nasional oleh berbagai kalangan. Ia adalah guru dari banyak kiai besar Nusantara.
Seperti Kiai Hasyim Asy’ari (Ponpes
Tebuireng Jombang); Kiai Wahab Hasbullah (Ponpes Tambak Beras Jombang) Kiai As’ad
Syamsul Arifin (Ponpes Salafiyah Syafiiyah, Sukurejo, Situbondo); Kiai Muhammad
Hasan (Ponpes Zainul Hasan Genggong) dan deretan kiai lainnya.
Berikut profil Kiai Khalil
Bangkalan. Bersumber dari Buku Muassis NU:
Manaqib 26 Pendiri Nahdlatul Ulama, yang ditulis Amirul Ulum.
Garis Keturunan
Syaikhona
Muhammad Khalil atau yang lebih Syaikhona Khalil Bangkalan merupakan ulama
legendaris abad 19-20 yang dikenal mempunyai banyak Karomah. Beliau dilahirkan
di Bangkalan pada hari Selasa tanggal 11 Jumadil Staniyah 1235 H/1820 M.
Dalam
diri Syaikhona Khalil telah mengalir titisan darah ulama. Secara runtutan
nasabnya adalah Syaikhona Khalil Bangkalan bin Kiai Abdul Latif, bin Kiai Hamim
bin Abdul Karim bin Kiai Muharrom, bin Kiai Asra al-Karomah, bin Kiai Abdullah
bin Sayyid Sulaiman Mojo Agung yang merupakan cucu dari Sunan Gunung Jati atau
Syarif Hidayatullah.
Riwayat Pendidikan
Semenjak
lahir, Syaikhona Khalil sudah digadang-gadang oleh Kiai Abdul Lathif menjadi
ulama yang akan meneruskan dakwah leluhurnya. Sang ayah
mendidiknya dengan ketat. Diajarkan dasar-dasar agama Islam seperti membaca
kitab suci al-Qur'an, kitab al-Juramiyah, al-Imrithi, dan al-Fiyah.
Usai
mendapatkan pengajaran ayahnya, Syaikhona Khalil mengembara dan menuntut ilmu ke Pulau Jawa yang dikenal sebagai gudangnya para kiai. Sekitar tahun
1850-an, Kiai Khalil nyantri di Pesantren Langitan yang diasuh oleh Kiai
Muhammad Nur.
Kemudian ke Pesantren Cangaan, Bangil Tuban yang diasuh oleh Kiai Asyik Seguta. Lalu melanjutkan ke Pesantren Keboncandi. Ketika
di Keboncandi, Syaikhona Khalil menyempatkan belajar di Pesantren Sidogiri yang
diasuh oleh Kiai Noer Hasan.
Jadi ketika belajar di Pesantren Sidogiri,
status Syaikhona Khalil adalah santri yang mondok di Keboncandi. Jarak antara
Keboncandi dengan Sidogiri yang panjangnya sekitar 7 kilometer dijalaninya dengan berjalan kaki. Setiap perjalanannya ini, Syaikhona
Khalil selalu menghatamkan Surat Yasin berkali-kali.
Selama
nyantri, Syaikhona Khalil dikenal dengan ahli tirakat. Baik dalam masalah makanannya maupun dalam membaca amalan-amalan yang
menjadi lantaran seorang hamba bisa semakin dekat dengan tuhannya.
Karena
keprihatinan dalam masalah ekonomi, beliau tidak mau merepotkan orang tuanya
meskipun sosok Kiai Abdul Lathif adalah salah seorang yang perekonomiannya
mapan. Syaikhona Khalil nyambi menjadi buruh batik untuk menopang
perekonomiannya selama mondok.
Dan
ketika beliau berkeinginan melanjutkan studinya menuju Haramain, beliau rela menjadi buruh pemetik kelapa milik kiainya yang ada di
Banyuwangi. Hasil kerjanya ditabung sehingga dapat meluluskan cita-citanya belajar di Haramain.
Syaikhona
Khalil berangkat menuju Haramain, ketika usia beliau sudah 24 tahun dan sudah
menikah dengan gadis yang bernama Nyai Asyik, putri dari Londro Putih.
Karena
bekalnya yang pas-pasan, maka Syaikhona Khalil menggunakan waktu selanya selama
belajar di Haramain untuk bekerja. Seperti menjadi tukang khath yang nantinya akan dijual.
Sering
sekali, Syaikhona Khalil memakan kulit semangka sebab minimnya ongkos yang
dimiliki. Sebab beliau sama sekali tidak pernah mengandalkan kirim dari orang
tuanya selama belajar di Haramain.
Selama
di Hijaz, Syaikhona Khalil belajar kepada berbagai ulama Haramain yang dalam
masalah keimuannya tidak diragukan lagi. Baik yang mengajar di Masjidil Haram
maupun yang ada di Kampung al-Jawi. Di antara guru Syaikhona Khalil adalah
Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Syaikh Abdul Adzim
al-Maduri, dan Syaikh Nawawi al-Bantani.
Mendirikan Pesantren
Sepulang dari Haramain, gema Kiai
Khalil yang alim dan
sufi telah menjadi magnet kuat bagi masyarakat setempat untuk mempercayakan
putra-putrinya agar dididik oleh Syaikhona Khalil. Karena banyaknya animo masyarakat yang ingin memondokkan putra-putrinya,
maka dibuatlah pesantren yang berada Cengkubuan, Bangkalan.
Ketika
putri Syaikhona Khalil yang bernama Fatimah sudah layak untuk menikah, beliau
menikahkannya dengan sosok alim bernama Kiai Muntaha. Kepada sang menantu,
Syaikhana Khalil memerintahkan agar mengasuh Pesantren Cengkubuan. Sedangkan
untuk Syaikhona Khalil berhijrah menuju Kademangan, Bangkalan.
Di
Kademangan ini, Syaikhona Khalil membangun pesantren lagi. Namanya yang sudah
semakin terkenal menjadi magnet kuat bagi para santri yang berasal dari Pulau
Madura dan Jawa berduyun-duyun mendatangi Pesantren Kademangan. Seperti Kiai
Hasyim Asy'ari, Kiai Faqih Maskumambang, Kiai Ridwan Abdullah, Kiai Wahab
Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Shaleh Lateng, Kiai Mas Alwi bin Abdul
Aziz dan lain-lain. Kebanyakan santri-santri Syaikhona Khalil ini kelak menjadi
ulama yang berpengaruh di daerahnya masing-masing.
Jimat Lahirnya NU
Ideologi
yang ditanamkan oleh Syaikhona Khalil adalah paham Ahlussunnah wal-Jamaah
dengan mengikuti salah satu madzhab empat dalam kajian Fiqh-nya, dan mengikuti Abu Hasan al-Asy'ari atau Abu Manshur al-Maturidhi dalam
masalah teologinya.
Lambat
laun amalan-amalan yang sudah lama dikerjakan oleh kelompok Islam Tradisionalis
mendapat kritikan tajam dari kelompok Islam Modernis yang mengatakan bid'ah,
khurafat dan tidak sesuai dengan apa yang dlajarkan oleh al-Qur'an dan
al-Hadist.
Tudingan
negatif ini membuat kuping para kiai yang tergabung dalam kelompok Islam
Tradisionalis merasa kerih dan ingin segera mengatasinya.
Kebanyakan
kiai pesantren, meskipun sudah menjadi tokoh, jika masih ada kiainya yang umur
dan kealimannya lebih tua dan luas dibandingkan dengannya, maka tradisi syaukah
(mengadukan) atas masalah besar yang timbul adalah sudah menjadi sebuah
kebiasaan.
Hal
ini menunjukkan bagaimana kehati-hatian kiai kuno dan penghormatannya kepada
ulama yang lebih sepuh dan alim darinya.
Atas
musibah yang menerpa kelompok Islam tradisionalis, maka ada sekitar 66 ulama
yang berasal dari berbagai daerah yang tersebar dari kepulauan Indonesia.
Dengan penuh kebijaksanaan, Syaikhona Khalil mengatakan bahwa ujian ini sudah
disinggung Allah dalam kitab suci al Qur'an. Yaitu ayat 8-9 dari surat
Ash-Shaf.
Mendapatkan
nasehat Syaikhona Khalil, kiai pesantren merasa agak lega. Akan tetapi, masih
menimbulkan keresahan sebab misi yang digencarkan oleh kelompok Islam Modernis
selalu berlanjut. Terlebih mereka sudah mempunyai sebuah organisasi yang
terstuktur dengan rapi sehingga dapat melancarkan misinya dengan mulus.
Sebenarnya,
para kiai pesantren sudah melakukan perkumpulan berkali-kali untuk membahas
tentang cita-citanya guna melahirkan sebuah organisasi yang sesuai dengan visi
Ahlussunnah wa al-jamaah. Akan tetapi kata sepakat sulit sekali untuk
didapatkan sebab adanya perbedaan pandangan.
Sebagian
ada yang mendesak agar cepat-cepat mendirikan organisasi, dan sebagian lagi
tidak setuju. Masing-masing mempunyal alasan kuat dengan disertai argumennya.
Karena tidak adanya kesepakatan, maka hal ini membuat keresahan bagi para kiai
pesantren, terlebih Kiai Wahab Hasbullah yang menjadi penggerak dari para kiai.
Keresahan
yang menerpa murid-murid Syaikhona Khalil dirasakan betul oleh gurunya. Hal itu
disebabkan hubungan ruh antara Syaikhona Khalil dengan santri-santrinya sangat
dalam sekali. Hubungan ruh yang
diharapkan bukan hanya bersambung di dunia, malainkan berlanjut hingga nanti di
akhirat.
Merasa
perlu campur tangan meskipun tidak secara langsung untuk mengobati keresahan
yang dialami santri-satrinya yang ada di Pulau Jawa, maka Syaikhona Khalil
mengutus muridnya yang bernama As'ad (Kiai As'ad Syamsul Arifin) agar
menyampaikan pesannya kepada Kiai Hasyim Asy'ari selaku sebagai santri
Syaikhona Khalil yang menjadi garda depan untuk melegitimasi apakah jadi
mendirikan atau tidak atas jam'iyyah tersebut.
Untuk
pertama kalinya, pesan itu berupa tongkat dan bacaan surat Thaha ayat 17-23.
"As'ad,
Kiai Hasyim sekarang lagi resah, tolong sampaikan tongkat ini dan bacakannya
ayat-ayat ini:
Dengan
penuh ketaatan, Kiai As'ad melaksanakan tugas dari kiainya. Beranjaklah beliau
menuju kediama Kiai Hasyim Asy'ari, Tebuireg. Sampai di tempat tujuan, Kiai
As'ad menyampaikan apa adanya dari apa yang diperintahkan oleh Syaikhona
Khalil.
Seketika
itu Kiai Hasyim Asy' ari teringat dengan bayangan gurunyanya yang sudan sepuh,
yang sangat berjasa atas pembetukan karakternya yang islami sehingga menjadi
sosok yang bisa mendalami ilmu agama dengan seksama.
Saat
mendapatkan pesan dari Syaikhona Khalil, Kiai Hasyim Asy'ari belum kunjung
mendirikan organisasi yang telah ditunggu-tunggu oleh kiai pesantren. Hal ini
semata-mata disebabkan karena sifat kehati-hatian Kiai Hasyim Asy'ari dalam
mengambil sebuah keputusan.
Soalnya
ini ada kaitannya dengan umat banyak, bukan hanya santri Syaikhona Khalil, akan
tetapi akan melebar kemana-mana. Kiai Hasyim Asy'ari sangat hati-hati sekali
dan selalu meminta petunjuk Allah agar masalan yang sedang dihadapinya segera
mendapatkan makhrajan (solusi).
Melihat
Kiai Hasyim Asy'ari belum juga mendirikan organisasi yang dicita-citakan oleh
kelompok Islam Tradisionalis, maka Syaikhona Khalil memanggil Kiai As'ad lagi
untuk menyampalkan pesan yang kedua kalinya. Kali ini pesan yang aisampaikan
berupa tasbih dan bacaan Asmaul Husna ya Qahhāru ya Jabbâru.
"Kiai,
saya diutus Kíai Khalil untuk mengantarkan tasbih ini kepada kiai," kata
Kiai As'ad dengan penuh takdzim.
"Selain
itu, saya juga diminta menyampaikan pesan dari Kiai Khalil, agar kiai
mengamalkan wirid, ya Qahharu ya jabbaru setiap saat," imbuh Kiai As'ad.
Dua
pesan Syaikhona Khalil menjadi jimat bagi Kiai Hasyim Asy'ari untuk lebih
mantap dalam mendirikan Jam iyyah yang sudah lama ditunggu. Beliau sudah semakin
yakin bahwa gurunya yang sepuh itu telah merestui cita-citanya dan cita-cita
para kiai pesantren lainnya yang tidak lain adalah kebanyakan murid Syaiknona
Khalil, baik secara langsung maupun intisab secara keilmuan.
Setelah
pesan kedua dari Syaikhona Khalil, Kiai Hasyim Asy'ari memanggil Kiai Wahab
Hasbullah dan beberapa kiai lainnya agar lebih mematangkan konsepnya.
Karena
tidak ingin konsepnya lemah, maka membutunkan beberapa waktu lagi sehingga
terdengarlah berita duka tentang wafatnya guru yang mereka hormati. Syaikhona
Khalil wafat terlebih dahulu sebelum Nahdlatul Ulama resmi didirikan. Beliau
wafat pada 29 Ramadhan 1343 H/ 1925 M.
Karena
situasi yang belum memungkinkan untuk mendeklarasikan jam'iyyah yang
diidam-idamkan, maka para kiai pesantren menunggu situasi yang pas. Mungkin
kendala yang tumbuh disebabkan karena masih dalam masa duka ditinggal wafatnya
Syaikhona Khalil, dan kondisi sosial politik Hindia Belanda yang ditambah
konflik Hijaz yang belum menentu sebab banyak ulama Sunni yang terkena sandera
dan siksa sebab adanya kontra dengan pemerintah yang baru lahir, yaitu Raja
Abdul Aziz bin Sa'ud.
Ketika
semua persiapan sudah matang, diadakanlah sebuah pertemuan besar yang dihadiri
oleh ulama se-Jawa dan Madura di kediaman Kiai Ridwan Abdullah Surabaya pada 16
Rajab 1344 /31 Januari 1926 M. Pertemuan itu selain membahas tentang lahirnya
Nahdlatul Ulama juga diselipkan acara haul Syaikhona Khalil yang merupakan
tokoh yang paling disegani dan dihormati oleh kelompok Islam Tradisionalis
waktu itu. (*)