Gandeng NU, Pemkab Probolinggo Istighosah Bersama Santri
Gandeng NU, Pemkab Probolinggo Istighosah Bersama Santri

Probolinggo, 21/10/2017 (IslamNu) Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke 3 Tahun 2017 sekaligus untuk meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila dan NKRI, Pemerintah Kabupaten Probolinggo bekerjasama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo malam ini (21/10/2017) menggelar “Pengajian Istighosah dan Pembacaan Sholawat Nariyah” bertempat di halaman Eks Pemkab Probolinggo Jl. Raya Dringu Nomor 901 Probolinggo.

Acara diawali dengan “pembacaan Yasin dan Tahlil bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Sholawat Nariyah”. Hadir dalam acara ini Anggota DPR-RI Komisi VIII Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si., Jajaran Pemkab Probolinggo, tampak Kabag Kesra H. M. Syarifuddin, S.Ag. M.Si., Jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan - Kabupaten Probolinggo, Pengurus MWCNU hingga PRNU dari kedua cabang tersebut ditambah Pimpinan, Ketua Lembaga dan Banom  serta simpatisan yang peduli pada hari santri seperti pengasuh pondok pesantren, kepala TPQ-Madin juga turut memeriahkan hari santri yang telah ditetapkan Presiden jokowi pada tanggal 22 Oktober 2015 tiga tahun yang lalu.

Penetapan Hari Santri Nasional (HSN) tidak dapat dipisahkan dari Resolusi Jihad yang dicetuskan Ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya. Dimana munculnya Resolusi Jihad kala itu untuk mengatasi kembalinya tentara Kolonial Belanda atas nama NICA. Seruan Resolusi Jihad ini adalah “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu‘ain wajib bagi setiap Individu”.

Dalam sambutannya Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si mengajak; “Jadikan HSN III sebagai Muhasabah bersama. Selamatkan generasi penerus kita dengan cara mendidik mereka dengan menanamkan pemahaman keagamaan yang utuh dimulai dari orang tuanya sendiri selanjutnya dijaga pendidikannya, sekolahkan dan lanjutkan ke pondok pesantren. Jadilah orang tua yang bisa memberikan teladan bagi anak-anaknya”.

Di era digital seperti saat ini semua kalangan atas hingga kalangan bawah sudah menggunakan alat media komonikasi. Mereka sudah terjebak pada media digital yang menyebabkan menurunnya akhlaq generasi muda. Karenanya itu kita kita harus menata mereka dengan pemahaman diniyah yang mapan agar mereka tidak terombang ambing dengan perubahan dunia yang cepat dan sulit terbendung.

Selain kebangkitan Ulama, juga ada kebangkitan pendidikan dan kebangkitan ekonomi kerakyatan yang oleh pendahulu kita ajarkan dengan organisasinya yakni; Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.

Kedua didik mereka dengan Al-Akhlaq al Karimah, tanamkan pada generasi muda karakteristik santri, adab dan tata kesopanan karena inilah yang akan membawa generasi kita pada kematangan spiritual, berkontemplasi dengan Allah Swt. Lakukan kebaikan dan tinggalkan yang mengarah pada hal negatif. Sama-sama warga NU, teruslah bergandengan tangan, jangan bertengkar, jangan berpecah belah apalagi saling khiyanah demi menghindari konflik internal, jelasnya. Dan yang terakhir Jaga Marwah Nahdlatul Ulama. Dimana Kewibawan NU sebagai organisasi sangat penting apalagi sudah dipertegas oleh Pemerintah dengan Kepres Nomor 22 tahun 2015 dengan penetapan Hari Santri Nasional, tutupnya. (Mp).